Intisari dan Materi Seminar 1 : Revolusi Melon

Berkut ini intisari dan materi dari Seminar 1 Formasigen : Revolusi Melon. Silahkan.

PEWARISAN DAN PEMETAAN PENANDA SEQUENCE

CHARACTERIZED AMPLIFIED REGION (SCAR) TERPAUT GEN

PENYANDI KETAHANAN POWDERY MILDEW [Podosphaera xanthii

(Castag.) Braun et Shishkoff] PADA TANAMAN MELON (Cucumis melo L.)

Ganies Riza Aristya M. Sc.

INTISARI

Budidaya tanaman melon (Cucumis melo L.) telah banyak dikembangkan di Indonesia secara konvensional. Varietas melon yang telah dibudidayakan mempunyai keunggulan yang berbeda-beda, tetapi ketahanan tanaman melon terhadap penyakit umumnya sama. Powdery mildew adalah salah satu penyakit yang menyerang tanaman melon hampir diseluruh sentra budidaya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh fungi dari jenis Podosphaera xanthii dan Golovinomyces cichoracearum. Metode pemuliaan secara konvensional yang selama ini telah dikembangkan untuk mendapatkan jenis melon unggul dan tahan terhadap P. xanthii terbukti tidak efisien karena memerlukan waktu yang lama, tempat luas dan hasil yang kurang konsisten. Sehingga diperlukan suatu penanda genetik untuk mengetahui letak gen yang tepaut dengan gen penyandi ketahanan terhadap powdery mildew. Penanda SCAR telah diketahui mampu melacak keterpautan gen penyandi ketahanan terhadap powdery mildew pada melon karena merupakan penanda kodominan dan merupakan pengembangan dari penanda RAPD sehingga lebih reproduktif, efisien dan akurat.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pewarisan dan pemetaan penanda SCAR yang terpaut dengan gen ketahanan melon terhadap jamur tepung penyebab penyakit powdery mildew pada melon generasi F 1 , F 2 dan test cross. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanda SCAR mampu mendeteksi gen ketahanan melon terhadap powdery mildew (Pm-W) pada individu dan populasi melon yang tahan (PI 371795, F 1 ♀ PI 371795, F 2 dan test cross) serta ditunjukkan dengan fragmen DNA pada panjang 1050 bp. Tetapi, fragmen DNA tersebut tidak teramplifikasi pada individu dan populasi melon yang tidak tahan (Action 434, F 1 ♀ PI 371795 serta F 2 dan test cross). Hasil tes Chi-square untuk ketahanan powdery mildew pada tanaman melon dengan penanda SCAR menunjukkan bahwa pola pewarisannya dikendalikan oleh satu gen resesif. Letak pautan penanda SCAR terdeteksi pada jarak 2,7 cM dari gen penyandi ketahanan powdery mildew (gen Vat/Pm-W ) pada populasi test cross dengan induk PI 371795.

Kata kunci : C. melo L., penanda genetik, SCAR, linkage map

Materi seminar dapat diunduh disini

ISOLASI DAN AMPLIFIKASI GEN KETAHANAN TERHADAP CUCUMBER MOSAIC VIRUS (Creb-2) PADA AKAR MELON (Cucumis melo L.) HASIL KULTUR IN VITRO

Wiwit Probowati

INTISARI

Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman hortikultura yang menurut asal-usulnya berasal dari daerah Mediterania. Tanaman melon telah lama dikembangkan dan dikonsumsi di Indonesia. Tetapi tanaman melon ini rentan terhadap serangan penyakit terutama yang disebabkan oleh virus. Salah satu virus yang seringkali menyerang tanaman melon adalah Cucumber mosaic virus (CMV). Hasil pemulian melon kultivar Yamatouri dengan Vakharman dilaporkan memiliki ketahanan terhadap CMV yang dikode oleh gen Creb-2 dan diwariskan kepada keturunan F2-nya. Tetapi ketahanan terhadap CMV pada melon F2 ini masih mengalami segregasi terutama dalam produksi bibit menggunakan teknik pemuliaan konvensional. Teknik kultur in vitro dapat menghasilkan bibit tanaman yang seragam. Pada penelitian sebelumnya membuktikan terdeteksinya gen ketahanan terhadap CMV (Creb-2) pada kalus melon hasil kultur in vitro. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendeteksi gen ketahanan terhadap CMV (Creb-2) pada bentuk diferensiasi kalus melon hasil kultur in vitro.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi gen Creb-2 pada bentuk diferensiasi dari sel-sel kalus melon hasil kultur in vitro. Benih melon F2 hasil persilangan Yamatouri dengan Vakharman ditumbuhkan pada medium ¼ MS (Murashige and Skoog). Selanjutnya kotiledon kecambah melon tersebut dikultur pada medium MS dengan variasi penambahan zat pengatur tumbuh 2 mg/L untuk 2,4-D dan 1 mg/L untuk BAP, hingga tumbuh kalus. Kalus tersebut didiferensiasi di medium MS dengan variasi penambahan zat pengatur tumbuh 0 mg/L; 0,01 mg/L untuk 2,4-D dan 0,1 mg/L of BAP,  dan medium MS dengan variasi penambahan zat pengatur tumbuh 0,01 mg/L; 0,1 mg/L; 1 mg/L untuk IAA dan 0,1 mg/L untuk  BAP. Selanjutnya bentuk diferensiasi dari kalus tersebut diisolasi untuk mendapatkan DNA dan gen Creb-2 diamplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).

Hasil penelitian menunjukan bahwa kalus berhasil didiferensiasi menjadi akar dan tumbuh optimum pada medium MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh 0,01 mg/L 2,4-D : 0,1 mg/L BAP dan 1 mg/L IAA : 0,1 mg/L BAP. Isolasi DNA dengan metode Kit Nukleon-Phytopure berhasil mendapatkan DNA total. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa gen Creb-2 dapat dideteksi pada akar melon hasil kultur in vitro.

Kata kunci: Cucumis melo L., CMV, Creb-2, in vitro

Materi seminar dapat diunduh disini

  1. Tes komen. Seep sep!!!

    Maju terus Formasigen

  1. January 22nd, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.